MENGENAL LEBIH DEKAT RK SANDJAJA

Desember 17, 2009

Richardus Kardis Sandjaja, Pr (1914-1948)

Sejarah Singkat

Sandjaja dilahirkan di desa Sedan, Muntilan, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1914. Ayahnya bernama Willem Kromosendjojo, bekerja sebagai pembantu perawat di sebuah klinik Katolik yang dipimpin oleh missionaris Yesuit di Muntilan. Ibunya bernama Richarda Kasijah, dari keluarga katolik yang baik. Sandjaja mempunyai dua kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki. Salah satu dari kakak perempuannya menjadi suster Fransiskan.

Sejak masa kanak-kanak Sandjaja sangat terkenal disekolahnya karena kepandaiannya. Dia masuk di SD Katholik yang dipimpin oleh para Bruder. Karena kecerdasannya, maka tidak mengherankan bahwa beliau lebih suka belajar dari pada bermain dalam hari-hari senggangnya. Beliau seorang yang berkepribadian sederhana, rendah hati, jujur dan terbuka terhadap satu sama lain. Beliau sangat suka memperhatikan hidup doanya, rajin mengikuti misa harian di gereja, dan sering mengunjungi gua Maria di Desa Sendangsono, untuk berdoa dan berefleksi. Ketertarikannya untuk menjadi imam berkembang ketika beliau masih di SD.

Beliau diterima di seminari setelah dia lulus dari SMA. Beliau hidup dalam kesucian yang luar biasa selama di seminari. Beliau ditahbiskan sebagai imam diosesan pada tanggal 13 Januari 1943 di Muntilan. Setelah pentahbisannya, beliau terpilih sebagai pastor paroki di Muntilan. Beliau mendapat banyak kesulitan karena situasi perang, namun demikian beliau sangat kuat dan percaya akan penyelenggaraan Ilahi, dan dengan alasan itulah beliau dapat menjalankan tugas-tugasnya dengan baik sebagai pastor paroki yang sangat bijaksana dan disukai oleh seluruh umat paroki Muntilan. Untuk beberapa kali bangunan Gereja dirusak oleh tentara perang yang tidak senang dengan karya missi. Walau begitu, beliau tetap tabah dan disemangati oleh umat parokinya untuk memperbaiki dan membangun kembali gereja mereka. Bagi umat parokinya, beliau selalu menunjukan kesederhanaannya, bijaksana dan memperhatikan sesama dalam seluruh hidupnya sebagai seorang pastor paroki. Meskipun banyak kesulitan, beliau dapat menjaga hubungan baik dengan pemerintah resmi.

Selama penjajahan Jepang tahun 1942 – 1945, banyak gereja yang dirusak dan kekayaan mereka dirampas. Dalam situasi seperti itu, Sandjaja harus melarikan diri dan bersembunyi di desa-desa untuk keselamatan sampai keadaan membaik. Selanjutnya, beliau dapat kembali ke parokinya untuk membangun kembali gerejanya. Kemudian, beliau mendapat tugas baru untuk mengajar di Seminari Tinggi di Yogyakarta, dan untuk membantu paroki tetangga di Magelang. Pada tahun 1948 beliau terpilih sebagai guru dan Rektor di Seminari Menengah di Muntilan. Beliau selalu menunjukkan sikap kesediaannya untuk membantu Gereja dimanapun dan bagaimanapun kondisinya, dan beliau melakukannya dengan baik.

Pada tanggal 20 Desember 1948, beliau menyelamatkan hidup teman imamnya dan seminaris dalam Seminarinya dengan menyerahkan dirinya kepada kelompok Muslim ekstrimis yang tidak menyukai umat Kristen dan para missionaris. Pemuda kauman Muntilan merampok dan membakar sebagian dari komplek persekolahan di Muntilan. Delapan pemuda itu yang belakangan diketahui berasal dari kelompok orang-orang Hisbullah itu menculik imam dan frater. Dia adalah Romo Sandjaja, Pr dan Frater Herman A. Bouwens, SJ.

Bersama seorang seminaris Yesuit dari Belanda itu mereka disiksa dengan kejam, lalu dibunuh secara keji oleh pembrontak Muslim di lapangan terbuka di daerah pinggiran Muntilan. Jenazahnya bergelimpangan di sawah antara desa Kembaran dan Patosan. Dengan cepat Bapak Willem dan anaknya, Yohanes Redja pergi ke tempat tersebut. Mereka menyaksikan jenazah Frater Bouwens telanjang bulat dan hidungnya disumbat dengan kayu runcing. Mukanya rusak berlumuran darah, sementara badannya biru memar bekas pukulan-pukulan hebat. Romo Sandjaja hanya mengenakan kaos dalam. Kedua kakinya dari bawah hingga ke atas penuh luka-luka kecil bekas tusukan upet (puntung api)  Bahu dan badannya membiru bekas pukulan. Tengkuk dan dahinya berlubang tertembus  peluru pistol. Sangat mengerikan!

Berat sekali penganiayaan bengis yang dilakukan oleh gerombolan yang tidak bertanggung jawab terhadap pencinta Tuhan ini. Jenazah mereka disapu dengan handuk kemudian dikubur di situ juga. Makamnya tidak dalam. Pemakaman ini dilakukan sekedar untuk menghilangkan jejak saja. Dua rohaniwan itu menjadi korban fanatisme yang sempit. Jenazah keduanya lalu dimakamkan kembali secara besar-besaran pada tanggal 5 Agustus 1950 di Kerkhop Muntilan. Dengan khidmat peti-peti mayat diusung oleh pramuka dan anggota-anggota Angkatan Udara dan dimakamkan di tempat pendiri Gereja di antara orang Jawa, yaitu Romo van Lith yang sudah beristirahat sejak tahun 1926.

Beliau menjadi salah satu martir pertama yang sangat terkenal di Pulau Jawa. Bagi kita, Sandjaja telah menjadi symbol ketabahan, kesucian, kesederhanaan, kesetiaan dan Kasih abadi Kristus Tuhan Kita.

Iklan

Sekelumit proses berdirinya lingkungan RK Sandjaja-Paroki Cijantung

Desember 14, 2009

KITA MENUJU KE ARAH PEMEKARAN

Sejalan dengan agenda kerja lingkungan yang telah disepakati dalam rapat koordinasi pengurus 23 Nopember 2008 di mana telah disepakati bahwa lingkungan kita akan dimekarkan.

Pada tanggal 21 Pebruari 2009 pengurus lingkungan mengumpulkan penggiat lingkungan untuk membicarakan rencana yang harus dijalani dalam proses pemekaran. Ini ternyata tidak mudah karena memang kita tidak punya pengalaman seperti ini. Namun demikian akhirnya para penggiat ini berhasil membuat titik temu yang cukup baik.

Hasil keputusan tim kerja itu adalah :

1.   TAHAP I  (22 – 28 Pebruati 2009)

Menetapkan 2 (dua) tim kerja yaitu 7 orang untuk tim kerja kelompok Barat dan 6 orang untuk tim kerja kelompok Timur. Mereka adalah : 

Kelompok Barat :

–       Bpk FX Sunarko (ketua tim)

–       Ibu Rosalina Robby

–       Bpk Alfonsus Situmorang

–       Sdr. Laurentius Harinja

–       Bpk Paulus David Pelealu

–       Bpk Salmon Simbolon

–       Ibu Magdalena Sitanggang

Kelompok Timur :

–       Bpk Michael Muryadi (ketua tim)

–       Bpk Ign. Kurniawan

–       Bpk Nicolaus Sutopo

–       Bpk J. Pinem

–       Ibu J. Pinem

–       Ibu Hariwibowo

Menetapkan batas lingkungan antara kelompok Barat-Timur adalah Jalan Haji Enjong yang secara geografis jalan tersebut membelah persisi di tengah-tengah lingkungan St. Nicodemus.

Menetapkan nama santo pelindung. Penyandang nama St Nicodemus adalah kelompok Barat sedangkan kelompok Timur masih mencari nama baru. Informasi terupdate yang diperoleh Belink adalah bahwa nama RK Sanjaya menjadi nominasi utama. Tim Timur telah berkonsultasi dengan pastor paroki dan mengijinkan nama RK Sanjaya sebagai nama lingkungan hasil pemekaran dengan santo pelindungnya St. Richardus sesuai dengan nama baptis RK Sanjaya

Sosialisasi tahap I. Media sosialisasi hasil tahap I disampaikan dalam kesempatan doa lingkungan.

2. TAHAP II ( 1 – 21 Maret 2009)

Menetapkan bakal calon pengurus inti lingkungan

Tahap ini sudah dilalui dengan baik sebab kedua tim sudah menyiapkan kandidat pengurusnya. Mereka adalah :

Kandidat kelompok Barat

–       Bpk Paulus David Pelealu

–       Bpk Salmon Simbolon

–       Bpk Felix Suhartanto

Kandidat Kelompok Timur

–       Bpk Robertus Prihantoko

–       Bpk Ignatius Kurniawan

–       Ibu Lucia Sri Sutanti

Menetapkan metode pemilihan Informasi yang didapat bahwa metode pemilihan pengurus ini disepakati melalui musyawarah mufakat di kedua kelompok tersebut

Menentukan jadwal pemilihan Kelompok Barat akan dilangsungkan pada tanggal 26 Maret 2009 jam 10.00 pagi di rumah Ibu Modesta Harianja sedangkan Kelompok Timur dijadwalkan pada tanggal 24 Maret 2009 jam 20.00 malam di rumah Bpk Bachtiar Siringoringo (setelah KKS)

Sosialisasi tahap II

3. TAHAP III (22 Maret – 4 April 2009)

Pelaksanaan pemilihan pengurus baru

Pembahasan administrasi KK dan St. Yusuf, inventaris dan keuangan

Pembahasan mengenai kegiatan yang masih berlangsung pasca pemekaran seperti arisan ibu-ibu lingkungan, kelompok paduan suara, OMK.

Sosialisasi tahap III

Hello world!

Desember 14, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!